Fiction Merantau – Asa yang ternoda

Kutatap langit di senja ini sembari berjalan menuju toko buku dalam sepi. Menikmatinya sendirian tanpa seorang temanpun menemani. Yaah… siapa juga yang mau berteman dengan anak penjahat seperti aku ini. Ayahku adalah kaki tangan penjahat penjualan wanita terbesar di daerahku. Haruskah aku merasa bangga dengan hal itu? Kurasa tidak. Aku menghela nafas berat.

Besok adalah hari pertama aku bersekolah di SMP. Kuharap kenangan buruk semasa SD tidak perlu terulang lagi. Sudah bosan aku dihajar oleh geng preman yang benci pada ayahku. Tak ada seorangpun yang mau jadi temanku karena takut pada ayahku. Selalu ayah! Semua karena ayah!!! Ingin kujeritkan kalimat itu tanpa tahu siapa yang akan mendengarnya.

Kuhela napas perlahan. Tiba-tiba kudengar suara menyebalkan yang sudah kukenal. “Yo Luc! Sendiri aja ne? Bagi duit donk! Bokap loe kan tajir!!” Dominique dan geng-nya menatapku sinis. Mereka adalah geng preman berusia SMP yang tidak menyukai ayahku. Aku berusaha untuk tidak memperdulikan mereka dan tetap melangkah pergi. Tapi Dominique tidak terima dan mencengkeram kerahku.

“Nantang loe ya! Loe tuli apa! Gua bilang bagi duit tolol!” Dia mencengkeram makin keras sampai aku sulit bernapas.

Kutatap tajam mata Dominique, dia merasakan hawa pemberontakan dari diriku. Segera ia menyuruh anak buahnya untuk merogoh kantung celanaku berusaha mendapatkan dompetku.

“Lepaskan aku!” jeritku sambil bergeliat berusaha melepaskan diri. Tapi justru bogem mentah yang kudapat. Darah segar kurasakan mengalir dari sudut bibirku.

Dia tertawa sinis. “Makanya kasi aja duit loe! Ga usah banyak tingkah!” Belum puas menggangguku, dia mengambil kacamataku dan mematahkannya.

Aku terpaksa menyerah. Tak sanggup kulawan enam orang itu. Hanya bisa pasrah menatap mereka pergi membawa uang dari ibuku untuk membeli perlengkapan sekolah besok.

Aku pulang dengan gontai, tak sudi aku meminta uang dari ayahku. Aku tak ingin uang haram itu! Ibuku selalu berusaha menghasilkan uang halal untuk diberikan padaku agar perutku tidak panas karena memakan uang haram. Tapi aku juga tidak mungkin meminta uang lagi pada ibu karena aku tau gaji ibu tidak seberapa. Kuputuskan untuk menggunakan barang-barang bekasku semasa SD saja. Biarpun using, tapi cucuran keringat ibu ada di dalamnya.

Keesokan haripun tiba. Dengan tegang aku menuju sekolah baruku dengan kacamata yang gagangnya hanya disambung dengan selotip. Sayangnya harapanku kemarin tidak terkabul. Baru aku berjalan di koridor sekolah, sudah banyak orang yang berjengit kala melihatku. Mereka pasti sudah tahu pekerjaan ayahku. Sepertinya tiga tahun ke depan akan sama suramnya dengan enam tahun yang telah kulalui.

Kakiku terasa berat menuju kelas yang akan kutinggali satu tahun ini. Saat kubuka pintu kelas, pandanganku terpaku menatap seorang lelaki di dalam kelas. Ratger, anak tunggal dari bos ayahku.

Perasaanku bercampur antara senang karena menemukan teman senasib sekaligus takut memikirkan apakah dia akan menggangguku seperti geng preman lainnya.

“Luc, ayo duduk disini!” Sapa Ratger ramah. Semua mata menatap kami. Aku ragu sejenak. Haruskah aku menuruti ajakannya? Kupandang sekelilingku, mereka menatap jijik pada kami. Amarahku tersulut. Akhirnya kuterima ajakan Ratger, karena aku yakin semua anak di kelas itu tidak akan ada yang mau berteman denganku.

Ratger tidak jauh berbeda dengan geng preman lain. Dia suka mengganggu anak lain, merampas uang mereka, memaksa mereka mengerjakan tugas rumahnya dan segala kenakalan lainnya. Tapi perlakuannya berbeda terhadapku. Mungkin karena aku adalah anak dari ayahku? Atau karena menganggap aku adalah anak buahnya?? Entahlah… aku tak ambil perduli. Setidaknya ada orang yang mau mengerti dan mau berbicara denganku.

Hubungan kami semakin dekat. Terkadang aku terpaksa menemaninya mengganggu anak lain. Aku tau itu salah, tapi aku juga tidak bisa melawan. Tak punya kekuatan maupun kekuasaan.

Hari berjalan terus. Aku semakin tertarik ke dalam dunia hitam. Mudahnya mendapatkan uang tanpa harus bersusah payah. Inikah alasan ayahku menempuh jalan itu? Kembali teringat wejangan ibuku bahwa tidak boleh mengambil hak orang lain. Tapi kini tanganku sudah sering melanggarnya. Entah sudah berapa orang yang kurampas uangnya untuk menyenangkan hati Ratger.

Sayangnya rasa bersalah itu makin hilang dari hatiku. Aku berusaha melupakan bahwa aku dulu berada di posisi orang-orang yang aku tindas sekarang. Aku tidak mau perduli! Dulu mereka tidak mau menolongku saat aku diganggu, dan inilah balasannya! Jangan salahkan bila aku mengganggu anak-anak sok suci itu!

Racun itu semakin merasuk ke dalam tubuhku. Racun yang disebut balas dendam..

Hari itu, Ratger menyuruhku untuk mengambil uang iuran dari suatu geng. Kulepas kacamataku, ku gel rambut coklatku ke atas, sambil membawa pipa besi untuk membuat tampangku kejam. Meskipun aku tidak bisa beladiri, dengan tampang dibuat sinis, aku selalu berhasil membuat lawan ketakutan dan menuruti keinginanku

Dengan berjalan ala preman aku menuju tempat itu. Betapa terkejutnya saat melihat orang yang hendak kuambil uangnya itu adalah Dominique. Orang yang telah mengetahui aku hanyalah lelaki lemah yang sering ia ganggu. Jantungku berdegup kencang, kuharap ia tak akan mengenaliku.

“Ratger meminta “pajak” bulanannya!” kuteriakkan kepadanya sambil berusaha mengubah suaraku menjadi berat.

Awalnya ia sudah mau menurutiku, tapi tiba-tiba dia terhenti dan menatap mata biruku. “Sepertinya aku pernah mengenalmu?” Tanyanya curiga.

“Ya.. di kehidupan sebelumnya” Aku berusaha tertawa sinis untuk menutupi ketakutanku.

Dominique agak bingung sesaat, sebelum akhirnya dia berkata “Aaah.. aku ingat sekarang! Kau Luc kan? Si anak lemah itu! Kau berbeda tanpa kacamatamu. Hahaha beraninya sekarang kau menantangku meminta pajak!”

Aku mundur sedikit, rasa takutku semakin besar apalagi berada di kandang lawan seperti ini.

Salah seorang anak buah Dominique berkata “Eh eh… gimana klo kita buat dia jadi pancingan biar Ratger datang? Trus kita gebukin Ratger rame-rame. Masih lebih muda dari kita aja dah sok. Mentang-mentang bapaknya bos preman disini.” Dominique tersenyum dan kemudian mengangguk menyetujui rencana itu.

“Jangan ganggu Ratger!!” Aku tidak rela Ratger harus mereka sakiti. Tapi pukulan telak ke ulu hati membuatku jatuh terduduk. Dadaku terasa sakit sekali, napasku menjadi sesak. Kutatap mereka marah.

“Nih anak emang songong dari dulu!” ujar Dominique sambil meludahiku. “Diem aja lu disini klo kaga mau mati!!” wajahnya penuh ancaman, dia mengeluarkan sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Kemudian dia mengeluarkan handphone dari sakunya dan mulai menghubungi nomer Ratger. Sengaja ia mengeraskan suara speaker agar aku tau siapa yang ia telepon.

“Yo Ratger… Luc gua sekap ne! Klo loe ga datang sendirian dalam tempo setengah jam… gua bunuh temen loe!” Ancam Dominique.

“Gua ga percaya! Luc ga selemah itu bisa ditangkap ama kalian!” teriak Ratger. Hatiku miris mendengar Ratger yang begitu percaya padaku.

“Ooo… oke… serah kalo loe ga percaya. Tapi nih denger sendiri suara temen loe!” Dominique mendekatkan Handphone nya ke mulutku.

“Ratger jangan datang! Ini jebakan!!” aku menjerit sekuat tenaga. Aku tak mau Ratger harus terluka karena kesalahanku.

Tiba-tiba dadaku terasa sakit, perih yang amat sangat menyerang dadaku, aku menjerit tanpa sadar. Saat kulihat, sebuah luka panjang dan dalam ada di dada kiri ku. Kupegangi luka ku berusaha menahan darah yang mengalir keluar. “Ratger jangan perdulikan aku… jangan datang…” ucapku lirih sambil merintih kesakitan.

“Kau apakan Luc!!” suara Ratger meninggi sembari berteriak. “Kubunuh kau kalau sampai kau membunuh Luc!!”

“Sini loe! Awas kalau bawa-bawa pengawal! Gua Cuma butuh loe seorang! Ingat… leher Luc ada di tangan gua!” Dominique makin mengancam sambil tertawa puas.

Kesadaranku mulai hilang. Rasa pening di kepala. Rasa perih dan sakit di dada.. membuatku kehilangan konsentrasi.. aku jatuh pingsan.

Entah berapa lama aku pingsan. Kurasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhku. “Luc!! Luc!!!” kudengar suara teriakan orang yang kurindukan. Ya.. itu suara Ratger. Aku berusaha membuka mataku.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ratger khawatir.

Aku mengangguk lemah. “Kenapa kau kesini! Sudah kubilang jangan kan!” aku marah karena kekhawatiranku padanya.

“Ah tidak apa-apa kok. Mereka itu cuma preman lemah.. tak akan bisa mengalahkanku.” Ujarnya sesumbar sambil melirik Dominique dan gengnya yang sudah pingsan tak berdaya penuh luka memar dimana-mana.

Aku tersenyum lemah, “Terima kasih banyak Ratger. Kau telah menyelamatkan nyawaku.”

“Itulah guna nya teman kan?” dia tersenyum manis dengan luka menghiasi ujung bibirnya.

Saat itu aku berjanji.. untuk menjadi lebih kuat.. untuk menjadi orang yang bisa melindungi diriku sendiri.. dan yang terpenting.. bisa melindungi sahabatku Ratger. Akan kupertaruhkan segalanya untuk selalu melindunginya. Dialah malaikat penyelamatku….

THE END

Note pengarang : Entah kenapa meski Yuda keren.. tp pertama kali Luc keluar.. hatiku berpindah ke dia hahaha. Aku sempet mikir.. nih orang harusnya bisa beladiri jago.. kok dari tadi ga dapat giliran ya.. Tapi syukurlah ternyata dia dapat giliran tanding di final fight 😀 kyaaaa kereen . Laurent Buson keren 😀 Fight nya mantab banget! Trus aktingnya apalagi pas dia menahan sakit keren bangeeeeeeeeeeet ^^ Makanya di fanfic ini aku buat dia terluka mulu wakakakaka. LUC I LOVE YOU!! 😀 *dijitak pacarku

Fanfic by : Hassei / Puspitasari Anggradewi (Shireishou’s sister)

From : Merantau

Character : Luc (Laurent Buson), Ratger (Mads Koudal), Dominique saat mereka masih SMP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *